Senin, 28 April 2014

SOSIOLINGUISTIK - Sekilas Tentang Poliglosia dan Diglosia

Diglosia ala Ferguson

Fenomena diglosia pada umumnya hanya bisa ditemukan dalam komunitas masyarakat bahasa yang bilingual[1] dan multilingual[2]. Dalam masyarakat bahasa tersebut kadangkala terdapat ragam bahasa yang ditinggikan ‘ragam H’(High Variation) dan ragam lain yang dianggap lebih rendah (Low Variation) ‘ragam L’. Fenomena inilah yang disebut dengan diglosia. Istilah diglosia diperkenalkan pertama kalinya oleh Ferguson (1959) dalam karyanya yang berjudul “Diglossia”. Istilah diglosia untuk kali pertama digunakan Ferguson untuk melukiskan situasi kebahasaan yang terdapat di Yunani, negara-negara Arab, Swiss, dan Haiti[3]. Fitur-fitur yang menandai fenomena diglosia antara lain (Holmes, 2001 : 27)

Dua ragam yang berbeda dari bahasa yang sama digunakan dalam komunitas, dimana salah satu dianggap sebagai ragam yang lebih tinggi dan yang lainnya dianggap sebagai ragam yang lebih rendah.
Masing-masing ragam digunakan untuk keperluan yang berbeda ; ragam H dan ragam L saling melengkapi satu sama lain.
Tidak ada seorangpun yang menggunakan ragam H dalam komunikasi sehari-harinya.
Menurut Ferguson, diglosia mempunyai ciri-ciri menonjol yang dapat ditunjukkan melalui sembilan sudut pandang, yaitu :

1. Fungsi
Fungsi adalah kriteria yang penting bagi situasi digloasia. Pada kebanyakan situasi diglosia bentuk ragam H lebih difungsikan dalam situasi formal. Ragam ini akan terasa janggal apabila digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Begitupun sebaliknya dengan ragam L akan terasa tidak pas dan aneh apabila digunakan dalam bentuk tulisan.

2. Prestise
Para penutur bahasa pada umumnya mengagumi ragam H, meskipun mereka kadang tidak sepenuhnya mampu memahaminya. Ragam tersebut disikapai dengan penuh penghargaan sebagai ragam bahasa yang elit yang mencerminkan status yang tinggi akan penuturnya. Sementara ragam L dianggap lebih inferior.

3. Tradisi sastra
Ragam H digunakan pada karya sastra masa lalu. banyaknya kepustakaan yang ditulis dalam H dan dikagumi oleh masyarakat bahasa tersebut. Kebiasaan tulis-menulis masa kini dianggap merupakan kelanjutan dari tradisi besar masa lalu.

4. Pemerolehan bahasa
Sumarsono (2007: 192) menegaskan bahwa aspek penting yang terlihat dalam fenomena diglosia adalah perbedaan proses pemerolehan ragam H dan L oleh penutur. Ragam L adalah ragam yang lebih dulu diperoleh dan dikuasai oleh penutur, sedangkan ragam H mereka peroleh melalui pendidikan formal. Ragam L dipelajari secara unconsious oleh penutur dalam artian dipelajari secara normal tanpa kaidah yang mengikat.

5. Standarisasi
Ragam H mengalami proses pembakuan dan harus dipelajari di sekolah, sedangkan tidak setiap orang mempunyai kesempatan untuk mempelajarinya. Sebaliknya, ragam L yang dipakai di dalam situasi tidak resmi adalah ragam bahasa yang dipakai sehari-hari di rumah. Ragam ini tidak mengenal ragam tulis dan tidak menjadi sasaran pembakuan bahasa.

6. Stabilitas
Diglosia dilihat sebagai situasi yang bersifat stabil. Kestabilan tersebut terjadi karena pada umumnya situasi diglosia muncul karena dikehendaki oleh penuturnya. Adanya ragam H dan L dalam masyarakat bahasa komunitas diglosia dipertahankan[4].

7. Tata bahasa
Sebenarnya ragam H dan ragam L dalam fenomena diglosia merupakan bentuk-bentuk dari bahasa yang sama, namun dalam hal tata bahasa ternyata terdapat perbedaan. Ditinjau dari tata bahasanya, ragam H cenderung memiliki kaidah tata bahasa yang lebih kompleks dibandingkan ragam L.

8. Leksikon
Kosakata pada ragam H sebagian besar sama dengan kosakata yang ada pada ragam L. Namun ada kosakata dalam raham H yang tidak terdapat padanannya pada ragam L begitupun juga sebaliknya terdapat kosakata pada raga L yang tidak terdapat padanannya pada ragam H. Pada fenomena diglosia pada umumnya terdapat dua padanan kosakata yang terdapat pada ragam H dan L, misalnya pada Bahasa Jawa untuk verba ‘makan’ ragam H adalah dhahar sedangkan ragam L adalah mangan.

9. Fonologi
Struktur fonologi antara ragam H dan L adalah berbeda. Fonologi ragam H mrupakan sistem dasar sedangkan fonologi raham L merupakan subsistem yang memiliki keberagaman. Fonologi ragam H merupakan bentuk umum yang ada dalam suatu bahasa. Di sisi lain fonologi ragam L bukan bentuk dasar dan cenderung memiliki variasi yang beragam.

Di Indonesia, situasi diglosia dijumpai dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, yang masing-masing mempunyai ragam H dan L pada bahasanya. Dalam masyarakat Sunda dikenal undak usuk basa, di dalamnya terdapat aturan tata bahasa yang mengatur tingkatan ragam bahasa rendah dan ragam bahasa tinggi seperti basa cohag (ragam kasar), basa loma (ragam untuk sesama), basa sedeng (ragam sedang atau tengah), basa lemes (ragam halus). Di Jawa terdapat bahasa ngoko (tingkat paling rendah), krama (tengah), krama inggil (tingkat tinggi)[5].


Diglosia ala Fasold dan Fishman

Konsep diglosia kemudian dikembangkan oleh Fishman (1972:92) dan Fasold (1984) dengan terminologi baru broad diglosia (diglosia luas). Menurut Fishman diglosia tidak hanya berlaku pada adanya pembedaan ragam T dan R pada bahasa yang sama, melainkan juga berlaku pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun, atau pada dua bahasa yang berlainan. Fishman menekankan pada adanya pembedaan fungsi kedua bahasa atau variasi bahasa yang bersangkutan.

Fasold (1984) mengembangkan konsep diglosia ini menjadi apa yang disebutkan broad diglosia (diglosia luas). Dalam konsep broad diglosia perbedaan itu tidak hanya antara dua bahasa atau dua ragam atau dua dialek secara biner, melainkan bisa lebih dari dua bahasa atau dua dialek itu. Dengan demikian termasuk juga keadaan masyarakat yang di dalamnya ada diperbedakan tingkatan fungsi kebahasaan, sehingga munculah apa yang disebut Fasold diglosia ganda dalam bentuk yang disebut double overlapping diglosia, double-nested diglosia, dan linear polyglosia.

Double overlapping diglosia adalah adanya situasi pembedaan derajat dan fungsi bahasa secara berganda. Contoh keadaan semacam ini bisa kita temukan di negara Tanzania, dimana di negara tersebut digunakan Bahasa Inggris, Swahili dan beberapa bahasa daerah. Pada satu saat tertentu Bahasa Swahili merupakan ragam H dimana ragam Lnya adalah bahasa-bahasa daerah. Di situasi yang berbeda, Bahasa swahili menjadi ragam L dan Bahasa Inggris berperan sebagai ragam H. Double-nested diglosia adalah keadaan dalam masyarakat multilingual, terdapat dua bahasa yang diperbedakan satu sebagai ragam H, dan yang lain sebagai ragam L. Fenomena semacam ini ditemukan di desa Khalapur, salah satu desa di India. Di desa tersebut terdapat dua macam bahasa yang digunakan, yakni Bahasa Khalapur dan Bahasa Hindi. Bahasa Khalapur sebagai bahasa daerah memiliki ragam H dan L. Begitu pula dengan Bahasa Hindi yang digunakan juga memiliki ragam H dan L.

Linear polyglosia bisa tergambarkan dengan jelas pada masyarakat Cina Malaysia. Pada masyarakat Cina Malaysia yang terpelajar dan mampu berbahasa Inggris, Bahasa Melayu ragam H, yaitu bahasa Malaysia merupakan variasi linguistik tertinggi kedua yang digunakan dalam masyarakat itu. Bahasa Melayu informal yang disebut bahasa Melayu Bazar mempunyai kedudukan yang sangat rendah, berada di bawah bahasa manapun. Bahasa Inggris dan variasi bahasa Cina kedudukannya lebih tinggi dari bahasa Melayu Bazar ini. Di samping itu terdapat bahasa Cina Mandarin yang mempunyai kedudukan khusus, dan harus dimasukkan dalam deretan khasanah bahasa tersebut.

Hubungan antara Bilingualisme dan Diglosia

Pada masyarakat bahasa di dunia terdapat 4 macam pola hubungan antara bilingualisme dan diglosia. Chaer (2004) menjabarkan pola tersebut sebagai berikut :

1. Masyarakat bilingual sekaligus diglosis
Karakter masyarakat yang seperti ini banya sekali ditemukan di beberapa negara di dunia, misalnya di Paraguay yang menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Guarani sebagai ragam L dan Bahasa Spanyol sebagai ragam H.

2. Masyarakat bilingual yang tidak diglosis
Tidak ada pembeda ragam bahasa dalam masyarakat bahasa seperti ini. Bahasa yang digunakan bisa dipergunakan dalam fungsi apapun tanpa ada pengklasifikasian. Situasi semacam ini ditemukan di Montreal, Kanada.

3. Masyarakat diglosis yang tidak bilingual
Situasi kebahasaan seperti ini menempatkan 2 kelompok penutur yang berbeda dalam masyarakat. Kelompok pertama jumlahnya lebih kecil dan hanya mengguanakan ragam H dalam berkomunikasi. Di sisi lain kelompok kedua yang jumlahnya lebih besar, tidak mempunyai kekuasaan dalam masyarakat dan hanya menggunakan ragam L dalam berkomunikasi. Menurut Ferguson masyarakat dengan karakter seperti ini belum bisa dikatakan sebagai masyarakat tutur karena kedua kelompok tersebut hanya berinteraksi secara minim atau bahkan nyaris tidak berinteraksi satu sama lain. Keadaan diglosik tanpa bilingual banyak terjadi pada era sebelum Perang Dunia I.

4. Masyarakat yang tidak diglosis dan juga tidak bilingual
Pada keadaan seperti ini hanya terdapat satu bahasa tanpa adanya variasi H dan L. Bahasa tersebut dapat digunakan dengan tujuan apapun. Keadaan seperti ini hanya mungkin terjadi pada daerah terpencil atau primitif. Lambat laun komunitas masyarakat yang tidak diglosik dan tidak bilingual semacam ini akan mengalami pencairan apabila mereka bersentuhan dengan masyarakat lain dalam artian melakukan komunikasi dengan komunitas masyarakat yang berbeda (Fishman, 1972: 106).

[1] Bilingual adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan 2 bahasa dalam berkomunikasi

[2] Multilingual adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan lebih dari 2 bahasa dalam berkomunikasi

[3] Pada negara-negara tersebut terdapat dua ragam bahasa yang berbeda, yakni Katharevusa dan Dhimtiki di Yunani, al fusha dan ammiyah di negara-negara Arab, Schriftsprache dan Schweizerdeutsch di Swis, serta francais dan creole di Haiti.

[4] Antara ragam H dan L dipertahankan dengan cara meredam ketegangan yang acap kali muncul pada kedua ragam tersebut. Ketegangan diredam melaui adanya ragam campuran dimana di dalamnya mengandung unsur H dan l sekaligus.

[5] Keduanya mempunyai ukuran baku masing-masing, diakui oleh masyarakat pemakainya dan bersifat stabil.


Referensi
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta
Fasold, Ralph. 1984. The Sociolinguistics of Society. Oxford: Basil Blackwell.
Fishman, Joshua A. 1972. Sociolinguistics, A Brief introduction. New York: Newbury House
Holmes, Janet. 2001. An Introduction to Sociolinguistics. London: Longman.
Meyerhoff, Miriam. 2006. Introducing Sosiolinguistics. New York: Routledge
Sumarsono. 2006. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar