Senin, 28 April 2014

Wodaabe, suku nomaden Afrika dengan segala keunikannya


Hidup berpindah dari satu daerah ke daerah lain alias nomaden ternyata masih dijalani oleh beberapa etnis di Afrika saat ini, salah satunya adalah etnis Wodaabé di Afrika Barat.

Secara historis, etnis Wodaabé merupakan pecahan dari etnis Fulani, etnis nomaden asli Afrika. Etnis Fulani terpecah ketika melakukan migrasi dari daerah selatan Sungai Nil ke Afrika Barat. Sebagian dari mereka masuk Islam dan memilih untuk hidup menetap. Sebagian lainnya tetap hidup nomaden dan menyebut dirinya etnis Wodaabé. Saat ini jumlah masyarakat mereka diperkirakan mencapai 200.000 jiwa. Sepanjang tahun masyarakat Wodaabé hidup berpindah-pindah dari satu ladang ke ladang lain di Afrika Barat dengan membawa serta sapi-sapi dan hewan ternak mereka. Perpindahan mereka sangat bergantung pada perubahan musim. Kegiatan perekonomian masyarakat Wodaabé adalah beternak. Susu yang dihasilkan oleh sapi, kambing, dan domba diperdagangkan oleh mereka. Daging sapi hanya dimakan pada saat perayaan-perayaan tertentu. Untuk melakukan perpindahan masyarakat Wodaabé memanfaatkan ternak unta dan keledai mereka sebagai alat transportasi.

Etnis Wodaabé memiliki keunikan yang menjadi ciri khas kelompok mereka. Cara wanita Wodaabé dalam menilai pria dapat dikatakan berbeda dengan kebanyakan masyarakat dunia. Kalau artis pria Hollywood seperti Arnold Schwaznager, Vin Diesel dan Silverster Stallone yang berwajah gahar dan bertubuh kekar menjadi idola, mungkin mereka justru akan menjadi pria kelas dua di Wodaabé. Wanita cantik, itu sudah menjadi hal yang biasa karena memang fitrah wanita untuk menjaga kecantikan mereka. Namun berbeda yang terjadi di Wodaabé. Di komunitas etnis nomaden ini justru pria lah yang dituntut untuk “cantik”. Pria-pria yang diidolakan di Wodaabé adalah mereka memiliki bentuk rahang tirus, leher jenjang, hidung ramping, bibir tipis, dan jari yang lentik. Wanita Wodaabé lebih memilih untuk menikahi pria berwajah tirus dibandingkan dengan pria yang berwajah gahar yang dinilai kurang memikat. Jenis pria kurang “cantik “ ini bahkan harus rela berbagi istri mereka dengan pria yang lebih “cantik” di etnis mereka.
Pria Ideal ala Wodaabé

Meskipun gadis Wodaabé menganut seks bebas, pernikahan tetap menjadi hal yang sakral bagi mereka. Pernikahan masyarakat Wodaabé dilakukan pada masa perayaan Cure Salée atau Salt Cure yang merupakan perayaan terbesar bagi masyarakat nomaden di Afrika. Pada perayaan ini masyarakat etnis Wodaabé membawa ternak mereka ke kawasan In-Gallu yang kaya akan garam. Kandungan garam dipercaya mampu meningkatkan kesehatan sapi gembala. Setelah memberi makan hewan ternak mereka, masyarakat Wodaabé menyelenggarakan festival Gerewol. Pada festival ini kaum pria lajang Wodaabé menampilkan tarian Yaake sekaligus sebagai ajang “kontes kecantikan” bagi mereka. Sebelum menari para pria sibuk mendandani diri mereka dengan aksesoris-aksesoris, seperti gelang, kalung dan hiasan rambut. Singkat kata, pria Wodaabé harus pandai bersolek. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempercantik diri mereka sebelum menari di depan para gadis Wodaabé

Gadis Wodaabé akan menonton tarian Yaake dengan seksama sekaligus memilih pria “cantik” yang akan mereka jadikan suami. Tarian ini dilakukan sekelompok pria Wodaabé dengan cara berjalan memutar seperti lingkaran dan saling merangkul bahu satu sama lain. Di belakang mereka berdiri para gadis. Para gadis tersebut menunggu sampai pria “cantik” favorit mereka berputar tepat di depan mereka dan mereka akan menepuk bahu pria untuk menandakan ketertarikan.

Pihak yang mengajukan lamaran adalah pihak wanita. Apabila lamaran pernikahan tersebut diterima, maka pihak laki-laki diwajibkan untuk membayar mas kawin berupa 3 ekor sapi yang akan disembelih dan dijadikan hidangan pada saat pesta pernikahan. Perlu dicatat bahwa masyarakat Wodaabé hanya menikah dengan sesama etnis mereka untuk menjaga kelestarian keturunan mereka di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar